RAYAKAN KEISTIMEWAAN DIY, LIVING MUSEUM KEMANTREN UMBULHARJO BERTAJUK “UMBULHARJO DAN JEJAK YANG TAK PERNAH PADAM

Istilah living museum merupakan sebuah konsep museum yang melibatkan aktivitas masyarakat dengan tradisi yang masih hidup dan mendukung upaya pelestarian serta informasi sebuah wilayah. Meski istilah Living Museum masih belum banyak digunakan di ilmu permuseuman / museology dan masih bersifat istilah umum, pemaknaan dan implementasi living museum masih menjadi suatu umum maka dalam pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan faktor lingkungan dan masyakarat pendukung di sekitar museum. Salah satu penerapan konsep living museum ada dipameran Kemantren Umbulharjo yaitu di tanggal 30 sampai 31 Agustus 2023 pada jam 15.00 – 21.00 WIB bertempat di XT Square. Dalam pameran ditampilkan berbagai macam hal tentang Kemantren Umbulharjo diantaranya tentang sejarah, Lurah-lurah pertama, Toponim Kawasan dan potensi-potensi lainnya di wilayah Kemantren Umbulharjo. Pameran ini menganggat tema “Umbulharjo dan Jejak Yang Tak Pernah Padam” yang memiliki maksud bahwa sejarah berdirinya Umbulharjo tetap ada  sampai sekarang dan perlu dilestarikan.

Sejarah Kemantren Umbulharjo dibentuk pada Minggu Legi tanggal 20 Desember 1946. Pemilihan dilaksanakan di Pendopo Kapanewon Kotagede Yogyakarta, di Basen (tempat tersebut dimana Pendopo dan Rumah-Dinas Panewu Pamong Praja dibumi hanguskan pada clash ke II, sekarang ditempati untuk Rumah gadai Negeri Basen). Pimpinan Rapat langsung dipegang Bupati Bantul : KRT. Djojodiningrat.
Umbulharjo berasal dari dua kata yang membentuknya, yakni “umbul” dan “arja”. Menurut Bausastra Jawa karangan Poerwadarminta (1939), kata “umbul” sendiri berarti obah saka ngisor mendhuwur (bergerak dari bawah); tuk (kang mbuwal wujud blumbungan, asaling kali). Dalam istilah yang lain terdapat juga dalam pustaka Babasan lan Saloka (1908), umbul atau sumber memiliki arti pepundhen, inggih punika ingkang dados wadananing tiyang padhusunan (pepunden yang dikeramatkan oleh masyarakat desa). Sedangkan kata “arja” sendiri menurut buku Tembag Kawi Mawi Tegesipun Garapan Winter (1928) artinya prayogi, rahajeng, pantes, wewulang, bening, mulya, raras, dan bagus.
Oleh karena itu, penamaan Umbulharjo memiliki arti tuk atau sumber yang mengalirkan air bening dan dipercaya oleh warga membawa manfaat bagi kehidupan manusia sehingga keberadaanya pun dikeramatkan. Referensi : Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pencarian bahan materi pameran dan penataan layout dikerjakan bersama oleh tim kreatif dari Kelurahan dan Kemantren serta menggandeng mahasiswa Ilmu Sejarah UGM dan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta yang ikut menggali dan menyajikan potensi wilayah dalam sajian living museum. Keterlibatan dua kampus besar UGM dan ISI Yogyakarta dalam kegiatan ini merupakan usaha Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mewujudkan percepatan Pembangunan Kota Yogyakarta.  Yang mengusung konsep Temoto Temonjo Kroso dengan memaksimalkan sinergi 5 K. Yaitu korporasi, komunitas, kampus, kampung, dan kota.

Asal-Usul Nama 7 Kelurahan di Umbulharjo :

1. Kelurahan Muja-Muju
Salah satu wilayah dibawah Kemantren Umbulharjo, wilayah ini terbilang cukup unik dengan
berbagai toponim yang ada didalamnya. Nama wilayah ini di masa lampau berhubungan dengan dunia flora. Menurut kamus Bauwarna karangan Padmasusastra (1898), menyebutkan lema “muja muju” yang berarti: moedja moedjoe, megatsih, dan mungsi. Penggunaan istilah “muja-muju” memiliki sinonim “jemuju”, yang berarti sejenis tanaman jinten. Tanaman tersebut dapat tumbuh dengan mudah dimana saja di lingkungan sekitar 200 celcius. Selain dari mudahnya penanaman, tanaman tersebut memiliki khasiat yang cukup banyak bagi kehidupan manusia, khususnya dibidang kesehatan. Salah satu khasiat dari tanaman tersebut yakni mampu mengatasi gangguan pernafasan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan juga mampu mengobati rematik, dsb. Oleh karena banyaknya kebermanfaatan dan khasiat untuk kehidupan sehari-hari, akhirnya tumbuhan muja-muju atau jinten tersebut direpresentasikan oleh warga lokal sebagai nama kampung mereka.

Referensi : Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta:
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.


 2. Kelurahan Tahunan
Ditinjau dari segi administrasi, wilayah ini berada di sebelah utara yang berbatasan dengan
Kelurahan Semaki, di sisi timur terdapat Kampung Glagah, dan pada bagian selatan dan barat
dibatasi Kampung Celeban. Daerah ini memiliki beberapa versi terkait asal muasal nama wilayahnya. Pertama, wilayah ini berakar dari kata tau yang berarti pernah atau sudah. Kedua, ada juga pendapat yang menyatakan, tahu yang merujuk pada keterangan Purwadarminta yang
memiliki arti lelawuhan sing digawe saka dele putih (lauk yang dibuat dari kedelai). Pendapat
lainnya yakni berawal dari kata “tahun” atau taun yang mengacu pada kurun waktu dua belas
bulan. Dari ketiga interpretasi sejarah lokal tersebut, kemudian warga lokal memutuskan untuk
mengambil pernyataan versi ketiga yang dirasa lebih pantas dan lebih masuk akal sesuai dengan pengucapannya.

Referensi : Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta:
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.


3. Kelurahan Warungboto
Secara administratif, kampung ini masuk Kecamatan Umbulharjo. Warungbata sendiri berada disekitar petilasan “Umbul Warungbata”. Akar kata Warungbata, yakni “warung” dan “bata”. Dalam tradisi masyarakat Jawa, warung dimaknai sebagai kedai, toko, ataupun kios, warung dalam konteks ini juga dimaknai sebagai ruang sosial bagi masyarakat Yogyakarta untuk berinteraksi sosial. Sedangkan kata bata menunjukan jenis bahan bangunan. Dalam tafsir sejarah bahwa bagi masyarakat lokal, bangunan warung yang berbahan bata cukup terbilang istimewa kala itu. Oleh karena, istimewanya sebuah warung yang terbuat dari bata, lantas warga lokal menggunakan istilah tersebut sebagai nama daerah mereka, yakni Warungbata.

Referensi : Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta:
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.


4. Kelurahan Pandean
Sebuah daerah yang terletak di sisi utara kampung Pakel. Daerah yang kemudian dikenal karena adanya satu profesi terkenal yang digeluti oleh masyarakat sekitar. Pande merupakan profesi tukang yang membuat peralatan dari besi. Dikarenakan di wilayah tersebut merupakan hunian para pande, akhirnya masyarakat setempat kemudian mengalokasikan nama tersebut sebagai nama wilayah yakni Pandean.

Referensi : Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta:
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.


5. Kelurahan Sorosutan
Sebuah wilayah yang penamaannya cukup unik., sejarahnya nama wilayah ini berasal dari kata
sara dan suta. Kata sara mengandung arti panah, lelandhep (senjata yang tajam), suminggah saka ing bebaya (menyingkir dari bahaya), pangreksaning urip (mengurusi hidup). Kemudian kata suta sendiri dalam kitab Kawi-Jarwa garapan Dirjasupraba (1931) diartikan sebagai anak. Dengan demikian istilah sarasuta sendiri yakni anak panah. Fakta tersebut berdasarkan penafsiran mengenai kekuatan militer di Keraton Kasultanan Yogyakarta yang bersenjata anak panah. Secara historis nya, penamaan wilayah tersebut karena di masa lampau wilayah tersebut ditinggali pasukan kerajaan yang bersenjata anak panah. Fenomena tersebut tidak asing lagi, karena di Yogyakarta sendiri sering ditemukan tata ruang pemukiman dengan mengacu pada system pertahanan militer. Oleh karena itu, masyarakat lokal momentum kan nama barisan pasukan Sorosutan untuk kemudian menjadi toponim bagi wilayah Sorosutan.

Referensi : Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta:
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.


6. Kelurahan Giwangan
Kelurahan Giwangan, kelurahan yang cukup unik pula dengan sistem penamaan nya. Penamaan daerah ini banyak dikaitkan dengan Giwang yang secara bahasa berarti perhiasan yang tertaut pada telinga perempuan. Secara historis, wilayah Giwangan merupakan penghasil giwang mutiara. Selain dari itu, berdasarkan penjelasan dari Bapak Sujono, selaku sesepuh Kampung Giwangan, produksi Giwang ini sudah dimulai sejak ibukota Mataram berada di Kotagede dan Giwangan merupakan salah satu bagian dari industri kerajinan perak yang berpusat di Kotagede.

Referensi: Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta:
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.


7. Kelurahan Semaki
Semaki merupakan sebuah kampung yang kini menjadi nama kelurahan. Asal muasal nama
kampung tersebut diyakini oleh masyarakat sekitar diambil dari kata "semak" yang artinya tanah becek. Hal ini sesuai dengan karakteristik tanah di Kelurahan Semaki jika dilihat secara topografis.

Referensi: Nur Aini Sulistyowati (ed.) et.al. (2019). Toponim Kota Yogyakarta. Jakarta:
Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.